<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>PEMBINA: Membina Belia Muslim Wawasan &#187; Tsaqofah Islamiyah</title>
	<atom:link href="http://pembinamelaka.com/v1/category/artikel-ilmiah/tsaqofah-islamiyah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pembinamelaka.com/v1</link>
	<description>Melahirkan Generasi Belia Islam Beriman, Berilmu, Prihatin, Seimbang dan Dinamik</description>
	<lastBuildDate>Mon, 16 Jan 2012 04:56:17 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Orang Mu&#8217;min tidak pernah stress!</title>
		<link>http://pembinamelaka.com/v1/2011/04/25/orang-mumin-tidak-pernah-stress/</link>
		<comments>http://pembinamelaka.com/v1/2011/04/25/orang-mumin-tidak-pernah-stress/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Apr 2011 04:27:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ummu wafa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Ilmiah]]></category>
		<category><![CDATA[Tsaqofah Islamiyah]]></category>
		<category><![CDATA[stress]]></category>
		<category><![CDATA[ujian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pembinamelaka.com/v1/?p=1081</guid>
		<description><![CDATA[ 

Sebagai hamba Allah, dalam kehidupan di dunia manusia tidak akan luput dari berbagai cubaan, baik kesusahan maupun kesenangan, sebagai sunnatullah yang berlaku bagi setiap insan, yang beriman maupun kafir. Allah Ta’ala berfirman,

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (Qs Al Anbiya’: 35)
Ibnu Katsir –semoga Allah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> </p>
<p><a href="http://pembinamelaka.com/v1/wp-content/uploads/2011/04/26930_378457593924_656918924_3871089_5577797_n.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1085" title="26930_378457593924_656918924_3871089_5577797_n" src="http://pembinamelaka.com/v1/wp-content/uploads/2011/04/26930_378457593924_656918924_3871089_5577797_n-300x199.jpg" alt="" width="410" height="231" /></a></p>
<p>Sebagai hamba Allah, dalam kehidupan di dunia manusia tidak akan luput dari berbagai cubaan, baik kesusahan maupun kesenangan, sebagai sunnatullah yang berlaku bagi setiap insan, yang beriman maupun kafir. Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p><em><br />
</em><em>“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.”</em> (Qs Al Anbiya’: 35)<br />
Ibnu Katsir –semoga Allah Ta’ala merahmatinya– berkata, “Makna ayat ini iaitu: Kami menguji kamu (wahai manusia), terkadang dengan bencana dan terkadang dengan kesenangan, agar Kami melihat siapa yang bersyukur dan siapa yang ingkar, serta siapa yang bersabar dan siapa yang beputus asa.” (<em>Tafsir Ibnu Katsir</em>, 5/342, Cet Daru Thayyibah)</p>
<p><strong>Sikap seorang mukmin dalam menghadapi masalah</strong></p>
<p>Disebabkan seorang mukmin dengan ketakwaannya kepada Allah Ta’ala, memiliki kebahagiaan yang hakiki dalam hatinya, maka masalah apapun yang dihadapinya di dunia ini tidak membuatnya mengeluh atau stress, apalagi berputus asa. Hal ini disebabkan karena keimanannya yang kuat kepada Allah Ta’ala sehingga membuat dia yakin bahwa apapun ketetapan yang Allah Ta’ala berlakukan untuk dirinya maka itulah yang terbaik baginya. Dengan keyakinannya ini Allah Ta’ala akan memberikan balasan kebaikan baginya berupa ketenangan dan ketabahan dalam jiwanya. Inilah yang dinyatakan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya,</p>
<p><em> “Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa (seseorang) kecuali denga izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk ke (dalam) hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”</em> (Qs At Taghaabun: 11)</p>
<p>Ibnu Katsir mengatakan, “Makna ayat ini: seseorang yang ditimpa musibah dan dia meyakini bahwa musibah tersebut merupakan ketentuan dan takdir Allah, sehingga dia bersabar dan mengharapkan (balasan pahala dari Allah Ta’ala), disertai (perasaan) tunduk berserah diri kepada ketentuan Allah tersebut, maka Allah akan memberikan petunjuk ke (dalam) hatinya dan menggantikan musibah dunia yang menimpanya dengan petunjuk dan keyakinan yang benar dalam hatinya, bahkan boleh jadi Dia akan menggantikan apa yang hilang darinya dengan yang lebih baik baginya.” (<em>Tafsir Ibnu Katsir</em>, 8/137)</p>
<p>Inilah sikap seorang mukmin dalam menghadapi musibah yang menimpanya. Meskipun Allah Ta’ala dengan hikmah-Nya yang maha sempurna telah menetapkan bahwa <a title="Orang mukmin tak pernah stres" href="http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/orang-mukmin-tidak-pernah-stres.html">musibah</a> itu akan menimpa semua manusia, baik orang yang beriman maupun orang kafir, akan tetapi orang yang beriman memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang kafir, yaitu ketabahan dan pengharapan pahala dari Allah Ta’ala dalam mengahadapi musibah tersebut. Tentu saja semua ini akan semakin meringankan beratnya musibah tersebut bagi seorang mukmin.</p>
<p>Dalam menjelaskan hikmah yang agung ini, Ibnul Qayyim mengatakan, “Sesungguhnya semua (musibah) yang menimpa orang-orang yang beriman dalam (menjalankan agama) Allah senantiasa disertai dengan sikap ridha dan ihtisab (mengharapkan pahala dari-Nya). Kalaupun sikap ridha tidak mereka miliki maka pegangan mereka adalah sikap sabar dan ihtisab (mengharapkan pahala dari-Nya). Ini (semua) akan meringankan beratnya beban musibah tersebut. Karena setiap kali mereka menyaksikan (mengingat) balasan (kebaikan) tersebut, akan terasa ringan bagi mereka menghadapi kesusahan dan musibah tersebut. Adapun orang-orang kafir, maka mereka tidak memiliki sikap ridha dan tidak pula ihtisab (mengharapkan pahala dari-Nya). Kalaupun mereka bersabar (menahan diri), maka (tidak lebih) seperti kesabaran haiwan-haiwan (ketika mengalami kesusahan). Sungguh Allah telah mengingatkan hal ini dalam firman-Nya,</p>
<p><em> “Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan.”</em> (Qs An Nisaa’: 104)</p>
<p>Oleh karena itu, orang-orang mukmin maupun kafir sama-sama menderita kesakitan. Akan tetapi, orang-orang mukmin teristimewakan dengan pengharapan pahala dan kedekatan dengan Allah Ta’ala.” (<em>Ighaatsatul Lahfan</em>, hal. 421-422, Mawaaridul Amaan)</p>
<p><strong>Hikmah cubaan</strong></p>
<p>Di samping sebab-sebab yang kami sebutkan di atas, ada faktor lain yang tak kalah pentingnya dalam meringankan semua kesusahan yang dialami seorang mukmin dalam kehidupan di dunia, yaitu dengan dia merenungkan dan menghayati hikmah-hikmah agung yang Allah Ta’ala jadikan dalam setiap ketentuan yang diberlakukan-Nya bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertakwa. Karena dengan merenungkan hikmah-hikmah tersebut dengan seksama, seorang mukmin akan mengetahui dengan yakin bahwa semua cobaan yang menimpanya pada hakikatnya adalah justru untuk kebaikan bagi dirinya, dalam rangka menyempurnakan keimanannya dan semakin mendekatkan diri-Nya kepada Allah Ta’ala.</p>
<p>Semua ini di samping akan semakin menguatkan kesabarannya, juga akan membuatnya selalu bersikap husnuzh zhann (berbaik sangka) kepada Allah Ta’ala dalam semua musibah dan cobaan yang menimpanya. Dengan sikap ini Allah Ta’ala akan semakin melipatgandakan balasan kebaikan baginya, karena Allah akan memperlakukan seorang hamba sesuai dengan persangkaan hamba tersebut kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam sebuah hadits qudsi:</p>
<p><em> “Aku (akan memperlakukan hamba-Ku) sesuai dengan persangkaannya kepadaku.”</em> (HSR al-Bukhari no. 7066 dan Muslim no. 2675)</p>
<p>Makna hadits ini: Allah akan memperlakukan seorang hamba sesuai dengan persangkaan hamba tersebut kepada-Nya, dan Dia akan berbuat pada hamba-Nya sesuai dengan harapan baik atau buruk dari hamba tersebut, maka hendaknya hamba tersebut selalu menjadikan baik persangkaan dan harapannya kepada Allah Ta’ala. (Lihat kitab <em>Faidhul Qadiir</em>, 2/312 dan <em>Tuhfatul Ahwadzi</em>, 7/53)</p>
<p>Di antara hikmah-hikmah yang agung tersebut adalah:</p>
<p>1. Allah Ta’ala menjadikan musibah dan cobaan tersebut sebagai ubat pembersih untuk mengeluarkan semua kotoran dan penyakit hati yang ada pada hamba-Nya, yang kalau seandainya kotoran dan penyakit tersebut tidak dibersihkan maka dia akan celaka (karena dosa-dosanya), atau minimal berkurang pahala dan derajatnya di sisi Allah Ta’ala. Oleh karena itu, musibah dan cobaanlah yang membersihkan penyakit-penyakit itu, sehingga hamba tersebut akan meraih pahala yang sempurna dan kedudukan yang tinggi di sisi Allah Ta’ala (Lihat keterangan Ibnul Qayyim dalam <em>Ighaatsatul Lahfan</em> hal. 422,<em>Mawaaridul Amaan</em>). Inilah makna sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p><em>            “Orang yang paling banyak mendapatkan ujian/cobaan (di jalan Allah Ta’ala) adalah para Nabi, kemudian orang-orang yang (kedudukannya) setelah mereka (dalam keimanan) dan orang-orang yang (kedudukannya) setelah mereka (dalam keimanan), (setiap) orang akan diuji sesuai dengan (kuat/lemahnya) agama (iman)nya, kalau agamanya kuat maka ujiannya pun akan (makin) besar, kalau agamanya lemah maka dia akan diuji sesuai dengan (kelemahan) agamanya, dan akan terus-menerus ujian itu (Allah Ta’ala) timpakan kepada seorang hamba sampai (akhirnya) hamba tersebut berjalan di muka bumi dalam keadaan tidak punya dosa (sedikitpun)”</em> (HR At Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4023, Ibnu Hibban 7/160, Al Hakim 1/99 dan lain-lain, dishahihkan oleh At Tirmidzi, Ibnu Hibban, Al Hakim, Adz Dzahabi dan Syaikh Al Albani dalam <em>Silsilatul Ahaadits Ash Shahihah</em>, no. 143)</p>
<p>2. Allah Ta’ala menjadikan musibah dan cobaan tersebut sebagai sebab untuk menyempurnakan penghambaan diri dan ketundukan seorang mukmin kepada-Nya, karena Allah Ta’ala mencintai hamba-Nya yang selalu taat beribadah kepada-Nya dalam semua keadaan, susah maupun senang (Lihat keterangan Ibnul Qayyim dalam <em>Ighaatsatul Lahfan</em>, hal. 424, Mawaaridul amaan) Inilah makna sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, <em>“Alangkah mengagumkan keadaan seorang mukmin, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.”</em> (HSR Muslim no. 2999)</p>
<p>3. Allah Ta’ala menjadikan musibah dan cobaan di dunia sebagai sebab untuk menyempurnakan keimanan seorang hamba terhadap kenikmatan sempurna yang Allah Ta’ala sediakan bagi hamba-Nya yang bertakwa di surga kelak. Inilah keistimewaan surga yang menjadikannya sangat jauh berbeda dengan keadaan dunia, karena Allah menjadikan surga-Nya sebagai negeri yang penuh kenikmatan yang kekal abadi, serta tidak ada kesusahan dan penderitaan padanya selamanya. Sehingga kalau seandainya seorang hamba terus-menerus merasakan kesenangan di dunia, maka tidak ada artinya keistimewaan surga tersebut, dan dikhawatirkan hamba tersebut hatinya akan terikat kepada dunia, sehingga lupa untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupan yang kekal abadi di akhirat nanti (Lihat keterangan Ibnul Qayyim dalam<em>Ighaatsatul Lahfan</em>, hal. 423, <em>Mawaaridul Amaan</em> dan Ibnu Rajab dalam <em>Jaami’ul ‘Uluumi wal Hikam</em>, hal. 461, Cet. Dar Ibni Hazm). Inilah di antara makna yang diisyaratkan dalam sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>:</p>
<p><em> “Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau orang yang sedang melakukan perjalanan.”</em> (HSR Al Bukhari no. 6053)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pembinamelaka.com/v1/2011/04/25/orang-mumin-tidak-pernah-stress/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Solat; Agen Pencegah Mungkar!</title>
		<link>http://pembinamelaka.com/v1/2011/02/28/tunaikan-solat-dengan-khusyuk-nescaya-ia-mampu-mencegah-mungkar/</link>
		<comments>http://pembinamelaka.com/v1/2011/02/28/tunaikan-solat-dengan-khusyuk-nescaya-ia-mampu-mencegah-mungkar/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Feb 2011 11:04:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ummu wafa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Ilmiah]]></category>
		<category><![CDATA[Tsaqofah Islamiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pembinamelaka.com/v1/?p=972</guid>
		<description><![CDATA[
Pernah tidak anda mendengar  yang solat itu dapat mencegah daripada sifat-sifat keji dan mungkar? Tentu pernah bukan. Ia merupakan intipati kepada firman Allah Subahanahu Wa Ta’ala yang bermaksud:
&#8220;Bacalah serta ikutlah (Wahai Muhammad) akan apa yang diwahyukan kepadamu daripada al-Quran, dan dirikanlah solat (dengan tekun); sesungguhnya solat itu mencegah daripada perbuatan yang keji dan mungkar; dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://pembinamelaka.com/v1/wp-content/uploads/2011/02/solat.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-975" title="solat" src="http://pembinamelaka.com/v1/wp-content/uploads/2011/02/solat-300x193.jpg" alt="" width="535" height="337" /></a></p>
<p>Pernah tidak anda mendengar  yang solat itu dapat mencegah daripada sifat-sifat keji dan mungkar? Tentu pernah bukan. Ia merupakan intipati kepada firman Allah Subahanahu Wa Ta’ala yang bermaksud:</p>
<p><em>&#8220;Bacalah serta ikutlah (Wahai Muhammad) akan apa yang diwahyukan kepadamu daripada al-Quran, dan dirikanlah solat (dengan tekun); sesungguhnya solat itu mencegah daripada perbuatan yang keji dan mungkar; dan sesungguhnya mengingati Allah adalah lebih besar (faedahnya dan kesannya); dan (ingatlah) Allah mengetahui akan apa yang kamu kerjakan.&#8221;</em><em><br />
(Surah al-Ankabut: 45).</em></p>
<p>Tapi, hakikatnya, ia tidak berlaku seperti apa yang termaktub pada firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala tersebut. Kenapa ia berlaku?, saya pun tidak tahu jawapan yang sebenar. Boleh jadi ia melibatkan banyak faktor samada dari sudut luaran dan dalaman orang yang bersolat tersebut.</p>
<p>Cuma, melalui pemerhatian dan ‘kajian’ yang saya lakukan, saya menjumpai satu faktor yang menyebabkan berlakunya masalah ini.</p>
<p>Antara puncanya adalah kebanyakan orang yang bersolat tidak sedar dengan apa yang dilakukan ketika solat.</p>
<p>Apa yang dimaksudkan dengan tidak sedar? Mereka <strong>tidak faham</strong> dengan butir-butir kalimah yang dituturkan dan membawa kepada <strong>lalai</strong> dan <strong>tidak khusyuk</strong> dalam solat.</p>
<p>Jadi, tidak mustahil setiap solat yang dilakukan tidak dapat mengubah seseorang itu menjadi lebih baik, dan tidak dapat mengubah orang yang bersifat mazmumah kepada orang yang bersifat mahmudah.</p>
<p>Solat yang didirikan dan setiap pergerakan yang dilakukan boleh dianggap sia-sia jika orang yang bersolat itu tidak mencapai khusyuk semasa bersolat dan dianggap lalai dalam mengerjakan solat tersebut.</p>
<p><strong>Awas!</strong> Jika solat kita adalah solat yang lalai, maka hukumannya sangat pedih iaitu <strong>NERAKA WAIL</strong>!.</p>
<p>Firman Allah SWT yang bermaksud:</p>
<p><em>“..Neraka Wail (celakalah) bagi orang yang bersolat.</em></p>
<p><em>Iaitu orang yang lalai di dalam solatnya..’</em></p>
<p><em>[Surah Al-Ma’un, 107: 4-5].</em></p>
<p>Adapun syarah tafsir mengenai ayat ini panjang dan ulama’ banyak mencirikan situasi bagi orang yang lalai ini, tapi ia jelas menunjukkan bahawa <strong>kecelakaan bagi orang yang lalai dalam solatnya</strong>. Na’udzubillahi min dzalik. Moga Allah SWT melindungi kita daripada perkara tersebut.</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Solat Merupakan Doa.</span></strong></p>
<p>Di dalam solat, sekiranya dapat kita hayati setiap bait-bait kalimah yang dilafaz ketika solat, ia merupakan himpunan puji-pujian dan doa-doa.</p>
<p>Ya, ia merupakan himpunan puji-pujian kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan doa-doa kebaikan untuk kita pohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Antaranya ialah bacaan Surah Al-Fatihah, bacaan ketika rukuk, bacaan ketika duduk antara 2 sujud, bacaan ketika sujud dan sebagainya. Jadi perlulah kita memahami setiap bait kalimah yang dituturkan supaya kita lebih menghayati dan merasai yang kita sedang berhubung dengan Tuhan Sekalian Alam.</p>
<p>Antara doa yang paling tinggi nilainya pada hemat saya ialah bacaan ketika duduk antara 2 sujud. Pada saat itu, kita sebenarnya sedang memohon keampunan daripada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kemudian ditambah pula dengan permohonan supaya diberikan rahmat-Nya, dicukupkan keperluan bagi kita untuk menghadapi kehidupan di dunia, diangkat darjat kita di sisi-Nya, diberikan rezeki, ditunjukkan jalan yang lurus, diberikan kesihatan yang baik dan diampunkan dosa-dosa.</p>
<p>Nah, hebat bukan doa disaat duduk antara 2 sujud. Doa yang membawa <strong>kebaikan di dunia dan di akhirat!</strong></p>
<p>Maka, bersolatlah dengan sedar, kerana Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya menerima solat orang sedar dan memakbulkan doa orang yang berdoa dalam keadaan sedar.</p>
<p>Oleh itu, memahami setiap bacaan di dalam solat ini tersangatlah perlu supaya ia dapat menambahkan kekhusyukan, menolak daripada lalai di dalam solat, dan yang paling baik ialah mendapat kemanisan di dalam solat.</p>
<p>Jelas sudah tentang kepentingan memahami maksud bacaan dalam solat.</p>
<p>Jadi, jangan berlengah, jangan bertangguh, berusahalah dengan bersungguh-sungguh untuk memahami bacaan dalam solat kalian.</p>
<p>Pergilah ke kedai buku atau toko-toko buku agama yang berdekatan, carilah buku yang mengajar tentang solat, insyaAllah di dalam buku tersebut ada maksud bacaan dalam solat. Ataupun, bagi yang tidak berkemampuan/berkelapangan untuk ke kedai buku, cari sahaja di dalam internet, insyaAllah anda akan jumpa banyak artikel-artikel yang membincangkan tentang maksud kalimah-kalimah dalam solat ini.</p>
<p>Moga artikel ini memberi manfaat kepada kalian dan panjangkanlah manfaatnya kepada orang lain. Moga kalian tergolong dikalangan orang-orang yang membuat kebaikan.</p>
<p>Dari Muawiyah katanya yang bermaksud;</p>
<p>:يَقُولُ وَسَلَّمَ، عَلَيْهِ للَّهُا صَلَّى النَّبِيَّ سَمِعْتُ</p>
<p>( <strong>الدِّينِ فِي يُفَقِّهْهُ خَيْرًا بِهِ اللهُ يُرِدِ</strong> <strong>مَنْ</strong> )</p>
<p>[عليه متفق]</p>
<p><em> “Barang siapa yang diingini Allah dengannya kebaikan, diberikan kefahaman agama.”</em></p>
<p><em>[Hadis riwayat Bukhari dan Muslim]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pembinamelaka.com/v1/2011/02/28/tunaikan-solat-dengan-khusyuk-nescaya-ia-mampu-mencegah-mungkar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di sebalik tabir…..Aidil Adha</title>
		<link>http://pembinamelaka.com/v1/2010/11/16/di-sebalik-tabir%e2%80%a6-aidil-adha/</link>
		<comments>http://pembinamelaka.com/v1/2010/11/16/di-sebalik-tabir%e2%80%a6-aidil-adha/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Nov 2010 04:50:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Ilmiah]]></category>
		<category><![CDATA[Tsaqofah Islamiyah]]></category>
		<category><![CDATA[aidil adha]]></category>
		<category><![CDATA[MMU]]></category>
		<category><![CDATA[PEMBINA Melaka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pembinamelaka.com/v1/?p=855</guid>
		<description><![CDATA[Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
“10 Zulhijjah”- Masihkah kita ingat akan tarikh ini? Atau masihkah ada jiwa-jiwa lalai yang lupa atau buat-buat lupa tentang peristiwa besar yang berlaku pada hari tersebut? Andai ada yang lupa, kalimah agung Allah dari Surah as-Saffat, ayat 102-109 ini mungkin dapat mengingatkan kembali.
Antaranya Allah menyatakan,
Maksudnya:
“Maka tatkala anaknya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.</p>
<p style="text-align: justify;">“10 Zulhijjah”- Masihkah kita ingat akan tarikh ini? Atau masihkah ada jiwa-jiwa lalai yang lupa atau buat-buat lupa tentang peristiwa besar yang berlaku pada hari tersebut? Andai ada yang lupa, kalimah agung Allah dari Surah as-Saffat, ayat 102-109 ini mungkin dapat mengingatkan kembali.</p>
<p style="text-align: justify;">Antaranya Allah menyatakan,</p>
<p style="text-align: justify;">Maksudnya:</p>
<p style="text-align: justify;">“Maka tatkala anaknya itu sampai (ke peringkat umur yang membolehkan dia) berusaha bersama-sama dengannya, Nabi Ibrahim berkata: “Wahai anak kesayanganku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahawa aku akan menyembelihmu, maka fikirkanlah apa pendapatmu, anaknya menjawab: ‘Wahai bapaku, jalankanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya-Allah, ayah akan mendapati aku dari orang-orang yang sabar. Setelah keduanya telah berserah bulat-bulat ( menjunjung perintah Allah itu), dan Nabi Ibrahim A.S. merebahkan anaknya dengan meletakkan mukanya di atas tumpuk tanah (Kami sifatkan Ibrahim – dengan kesungguhan azamnya itu – telah menjalankan perintah Kami, serta Kami menyerunya, “Wahai Ibrahim! engkau telah menyempurnakan maksud mimpi yang engkau lihat itu”. Demikianlah sebenarnya kami membalas orang-orang yang berusaha mengerjakan kebaikan. Sesungguhnya perintah ini adalah satu ujian yang nyata, dan kami tebus anaknya itu dengan seekor binatang sembelihan yang besar”. Dan Kami kekalkan baginya (nama yang harum) dalam kalangan orang-orang yang datang kemudian. “ Salam sejahtera kepada Nabi Ibrahim”.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari ayat-ayat tersebut, Allah menceritakan, bagaimana keimanan yang tinggi yang dimiliki oleh Nabi Ibrahim a.s. dapat melaksanakan perintah Allah, sekalipun terpaksa mengorbankan jiwa anak kesayangannya Ismail a.s. Begitu juga kekuatan iman Nabi Ismail a.s. yang sedia menerima perintah sekalipun dirinya sebagai taruhan. Pengorbanan dan kesabaran seperti ini yang sepatutnya diterapkan dalam jiwa kita agar kita berjaya mengharungi segala ujian dan cabaran dalam kehidupan dunia ini, dalam kita melaksanakan segala perintah Allah s.w.t.</p>
<p style="text-align: justify;">Sedar tak sedar, sebenarnya pengorbanan begitu besar ertinya dan begitu luas, bukan setakat membawa maksud menumbangkan seekor lembu atau unta dan kemudiannya mengagih-agihkannya. Ramai dari kita yang masih belum sedar akan peri pentingnya pengorbanan. Jikalau konsep pengorbanan yang sebenar-benarnya dijadikan tunjang dalam hidup kita, nescaya keadaan umat Islam pada hari ini mungkin jauh lebih baik.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita sama-sama maklum, antara dua kelemahan utama umat Islam hari ini ialah dari segi penguasaan ilmu dan ekonomi. Jika kita menguasai ilmu, kita akan dapat memajukan ekonomi kita dan sekiranya kita dapat menguasai ekonomi, ia dapat memperkasakan lagi penguasaan ilmu kita. Kedua-dua usaha ini amat dituntut oleh Islam. Malangnya, banyak negara Islam yang gagal memenuhi tuntutan ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengapa tidak kita aplikasikan konsep pengorbanan untuk menguasai kedua-dua perkara ini? Pengorbanan untuk menguasai ilmu bukan hanya merujuk kepada pengorbanan dari segi kewangan.Yang lebih penting ialah pengorbanan di pihak individu, lebih-lebih lagi pelajar Islam untuk menuntut ilmu dan pengajian berbanding perkara-perkara lain. Bagi ibu bapa, seeloknya kita mendahulukan keperluan pendidikan anak-anak, berbanding keperluan kebendaan yang bersifat kosmetik. Begitu juga, pengorbanan masyarakat hendaklah mengutamakan majlis ilmu berbanding kecintaan kepada hiburan yang melulu.</p>
<p style="text-align: justify;">Penguasaan ekonomi juga perlu dilihat dengan cara yang serupa. Baik di peringkat individu, keluarga, masyarakat, mahupun negara. Semua umat Islam perlu berusaha bersungguh-sungguh bagi menyumbang kepada kekuatan ekonomi ummah. Bekerja, baik bekerja sendiri mahupun makan gaji, perlu diniatkan sebagai satu usaha bukan hanya untuk mencari makan atau meneguhkan kedudukan ekonomi keluarga, tetapi juga untuk meningkatkan ekonomi ummah dan memartabatkan agama. Berkorban untuk agama boleh menjadi pendorong utama kepada usaha yang bersungguh-sungguh ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Semoga dengan cara ini, kita sentiasa ingat kepada tanggungjawab kita sebagai hamba Allah dan terhadap ummah keseluruhannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh yang demikian, marilah kita menghayati erti pengorbanan dengan mengamalkan sikap suka berkorban dalam apa jua bidang bila diperlukan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesungguhnya betapa mulianya bila kita membudayakan sikap suka berkorban berdasarkan kemampuan masing-masing terutamanya demi kemaslahatan ummah sejagat seperti, berkongsi ilmu bagi orang yang berilmu dalam usaha membina ketamadunan ummah, berkongsi akal fikiran dalam melahirkan masyarakat yang bijaksana, berkongsi harta benda dan tenaga bagi membantu orang yang memerlukan bantuan sebagai usaha bagi mewujudkan hubungan baik dengan sesama manusia, menumpukan masa untuk melaksanakan perintah Allah walau dalam apa keadaan sekalipun bagi memelihara hubungan baik dengan Allah Taala dan pengorbanan jiwa dan raga sebagaimana yang dilakukan oleh angkatan tentera demi menjaga keamanan dan keselamatan negara serta masyarakat. </p>
<p style="text-align: justify;">Semoga Aidil Adha kita pada kali ini lebih bermakna dan mendapat ganjaran yang melimpah-ruah dari Allah Subhanahu wa Taala. Saya akhiri dengan kalimah Alah dari Surah al-Kausar ayat 2, yang bermaksud,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Maka bersolatlah kamu untuk Tuhanmu dan bersembelihlah(berqurban untuk Tuhanmu)”</p>
<p style="text-align: justify;"> Wassalam…</p>
<p style="text-align: justify;">Bakal akauntan bertauliah,</p>
<p style="text-align: justify;">WanHaffiz, MMU Melaka</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pembinamelaka.com/v1/2010/11/16/di-sebalik-tabir%e2%80%a6-aidil-adha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ayuhai Para Belia, Binalah Jatidiri Muslim Sejati</title>
		<link>http://pembinamelaka.com/v1/2009/02/10/ayuhai-para-belia-binalah-jatidiri-muslim-sejati/</link>
		<comments>http://pembinamelaka.com/v1/2009/02/10/ayuhai-para-belia-binalah-jatidiri-muslim-sejati/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Feb 2009 08:46:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Ilmiah]]></category>
		<category><![CDATA[Tsaqofah Islamiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Belia Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Jatidiri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pembinamelaka.com/v1/?p=231</guid>
		<description><![CDATA[Ingin saya berkongsi cerita diruang yang terbatas ini. Kisah seorang beliawanis penuntut IPTA di utara tanah air yang menggadaikan harta kesayangannya untuk membantu saudara seislam yang lain. Kisah berlaku di pulau pinang setelah program untuk palestin selesai di mana beliau telah bertemu dengan urusetia. Beliau memberikan 2 bentuk cincin dan seutas rantai batu permatanyanya untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://pembinamelaka.com/v1/wp-content/uploads/2009/02/us_suriani.jpg"></a>Ingin saya berkongsi cerita diruang yang terbatas ini. Kisah seorang beliawanis penuntut IPTA di utara tanah air yang menggadaikan harta kesayangannya untuk membantu saudara seislam yang lain. Kisah berlaku di pulau pinang setelah program untuk palestin selesai di mana beliau telah bertemu dengan urusetia. Beliau memberikan 2 bentuk cincin dan seutas rantai batu permatanyanya untuk diinfaqkan dengan katanya, berikan ini kepada Hamas. Masya Allah..</p>
<p style="text-align: justify;">Hati saya juga terpaku dengan sebuah paparan di tv di mana seorang anak palestin pabila ditanya apakah anda takut dengan yahudi. Tahukah kalian apa jawapannya? Dengan wajah yang tenang dan tersenyum ia menjawab: Hasbunallahu  wa ni&#8217;mal wakil(cukuplah Allah bagi kami dan Dialah sebaik-baik Pelindung)</p>
<p style="text-align: justify;">Hati begitu tersentuh  dengan kedua-dua kisah ini. Jauh di lubuk hati berkata, betapa mulianya dua belia remaja ini. Kisah seorang belia yang sangat-sangat  merasai kegetiran hidup saudaranya yang jauh dari mata. Sanggup mengorbankan apa yang sangat disayangi dan dicintai oleh naluri. Seakan-akan mengulangi kisah ansar yang sanggup mendahulukan sahabatnya dari muhajirin mekah.</p>
<p style="text-align: justify;">Juga kisah anak palestin yang  tersangat yakin dengan Allah. Begitu tinggi pergantungannya dengan Allah Baginya Allah sudah cukup. Tiada yang lain di hatinya selain Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Ya Rabb.. di celah-celah kegawatan umat belia Islam yang tenggelam  dengan mainan dunia, yang tercungap-cungap di lautan yang penuh tipu daya, masih ada yang hampir denganMU. Masih ada yang sentiasa menyahut seruanmu.</p>
<p style="text-align: justify;">Aduhai para belia, inilah jatidiri yang kita mahukan. Punyai iman yang jitu. Dari iman inilah lahirnya rasa kasih sesama insan, rasa ingin memiliki redha Tuhan, benda baginya bukanlah kebahagiaan tetapi cinta Tuhan lebih ia dambakan. Cukuplah baginya Tuhan yang Satu, Yang Maha Besar Maha Penyayang. Baginya dunia hanyalah sementara, ladang untuk dituai hasilnya di akhirat sana.</p>
<p style="text-align: justify;">Jatidiri inilah yang ingin kita bina. Yang Islam menjadi tunggaknya. Bukannya jatidiri ciptaan musuh durjana.yang penuh dengan tipudaya. Yang bertopengkan keindahan dan keseronokan yang sementara. Yang hanya ingin memporak peranda belia remaja kita. Dengan pelbagai budaya dan  jenama yang direka. Khusus untuk merosakkan muslim yang belia remaja.</p>
<p style="text-align: justify;">Aduhai belia. Kenalilah Islam. Dalamilah Islam nescaya kamu akan mencintainya. Selamilah perancangan musuh Allah, selidikilah ia nescaya kamu akan benci dan menjauhinya. Sedarlah kalian bahawa perancangan mereka yang ingin kita leka dengan kecantikan dunia, membuang masa dengan perkara yang tidak tentu hala, berbangga dengan barang jenama mereka dan sibuk puja memuja artis-artis yang rosak akhlaknya,  &#8230;.telah memusnahkan belia remaja Islam kita. Kerana apa mereka mencipta itu semua? Tidak lain hanya untuk menghilangkan jatidiri belia Islam kita lalu menggantikannya dengan perbadi dan gaya hidup mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Tahukah kalian siapakah yang melakukan semua ini? Merekalah bangsa yang sedang memijak-mijak, menghenyak-henyak dan membantai saudara-saudara kita nun di Palestin sana. YAHUDI LAKNATULLAH!</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk itu, bangkitlah. Binalah peribadi muslim sejati. Jauhi entiti ciptaan yahudi. Adakah kita masih mahu leka dibuai tipudaya musuh durjana sedang sahabat-sahabat sahabat kita nun di Palestin sana bersengkang mata menyabung nyawa mempertahan agama, keluarga dan tanah waqaf  tercinta. Yang tidak punya masa hatta untuk mengurus diri apatah lagi melayani kehendak rasa seorang belia&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh,</p>
<p style="TEXT-ALIGN: justify"><img title="masul" src="http://pembinamelaka.com/v1/wp-content/uploads/2009/02/us_suriani.jpg" alt="." width="120" height="150" /></p>
<p style="TEXT-ALIGN: justify"><em>Ustadzah Suriani Sudi,<br />
Naib Presiden II,<br />
PEMBINA Pusat.</p>
<p><strong>SUMBER : </strong></em><a href="http://pembina.com.my"><strong><em>http://pembina.com.my</em></strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pembinamelaka.com/v1/2009/02/10/ayuhai-para-belia-binalah-jatidiri-muslim-sejati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

